Selasa, 19 Mei · Cerah berawan, 28°C
Yahayuk— jalan pendek, ditulis pelan
Vol. IV · No. 17

Cerita utama · Sulawesi Utara

Tiga hari di Tomohon, dan satu siang di pasar yang membingungkan saya.

Saya kembali ke kota kecil di dataran tinggi ini setelah enam tahun. Banyak yang berubah, beberapa tidak. Yang paling tidak berubah adalah caranya membuat saya pulang dengan kepala lebih ringan dan tas lebih berat.

Pesawat pagi dari Manado mendarat sebelum kabut benar-benar turun. Saya pesan ojek lewat aplikasi yang sepertinya tidak terlalu populer di kota ini — tukang ojek itu menelepon dua kali untuk memastikan saya bukan orang yang salah pencet. Saat akhirnya bertemu, kami menghabiskan lima belas menit pertama membicarakan ikan, karena dia ternyata juga mancing.

Tomohon kecil. Begitu kecil sehingga saya hampir selalu bertemu orang yang sama dua kali dalam satu hari — di pasar, di warung kopi, lalu di tikungan jalan menuju penginapan. Pada hari ketiga, satpam penginapan sudah memanggil saya dengan nama. Saya tidak pernah memberitahukan nama saya kepadanya.

"Saya tidak ke sini untuk berlibur. Saya ke sini untuk ingat bagaimana cara berjalan pelan." — catatan di buku saku, hari kedua

Peta tangan

Lima berhenti yang saya gambar di belakang struk parkir.

Bukan jalur efisien. Bukan jalur populer. Hanya urutan yang nyaman dilakukan dalam satu hari kalau Anda berjalan sambil menelepon orang tua dan sesekali membeli pisang goreng.

  1. Pasar Beriman — pagi, jangan jam sembilan ke atas, kecuali suka berdesakan.
  2. Bukit Doa — tidak harus religius untuk duduk di sana. Dingin enak.
  3. Warung Sumarni — bubur Manado, kursi kayu yang sudah usang dengan benar.
  4. Danau Linow — sore, warna airnya berubah saat matahari mulai miring.
  5. Kopi Tampusu — pulang lewat sini, pesan yang panas, duduk dekat jendela.
Linow 1 Pasar Beriman 2 Bukit Doa 3 Sumarni 4 Linow 5 Tampusu N arah pulang → peta tidak ke skala — digambar di belakang struk
Sketsa rute, lima berhenti, satu hari penuh. Dipindai dari buku saku.

Yang dicicipi

Empat tempat makan, dengan komentar yang jujur.

Saya bayar sendiri, datang tanpa diundang, makan sampai habis.

Bubur Tinutuan, Warung Sumarni

Hangat, tidak terlalu kental. Ikan rohunya digoreng kering — saya makan dua porsi dan menyesal tidak membawa kotak bekal.

  • Pesan Tinutuan + ikan roh + sambal roa
  • Harga Rp 28.000
  • Datang Sebelum jam 9 pagi
  • Catatan Mereka tidak terima kartu. Bawa uang pas.

Kopi Tampusu — kopi rumahan, kursi kayu

Saya tidak biasa minum kopi tubruk pekat di sore hari, tapi cuaca dingin di sini membuat saya berpikir ulang. Pemiliknya bercerita panjang soal asal biji — saya dengarkan sambil pura-pura paham.

  • Pesan Robusta tubruk + pisang goreng
  • Harga Rp 25.000
  • Datang Sore, sebelum hujan
  • Catatan Wi-fi ada tapi lambat. Bagus.

Nasi Kuning Bu Imelda

Saya antri dua puluh menit. Layak. Cakalang fufunya sedikit pedas — saya menambah satu sendok sambal dan menangis dengan tenang.

  • Pesan Nasi kuning komplit
  • Harga Rp 22.000
  • Datang Pagi sekali, atau siap antri
  • Catatan Tutup hari Senin.

Pasar Beriman, lapak Mama Lin

Bukan restoran. Lapak buah dan rempah. Tapi Mama Lin punya termos berisi teh manis hangat dan akan menyodorkan ke siapa pun yang terlihat lelah. Saya termasuk.

  • Pesan Teh manis (gratis), pala segar
  • Harga Rp 15.000 (untuk palanya)
  • Datang Pagi, sebelum sembilan
  • Catatan Bawakan dia kabar baik kalau bisa.

Daftar pendek

Yang saya bawa, yang saya tinggal.

Dua daftar. Yang pertama dibawa dari Jakarta, yang kedua diberikan ke teman yang menginap di kos saya selama saya pergi.

Dibawa

  • Jaket tipis (perlu)
  • Sandal yang bisa basah
  • Buku saku & dua pensil
  • Obat batuk (pakai sekali)
  • Kamera mini (24 frame)
  • Power bank yang sudah sepuh

Ditinggal

  • Sepeda lipat (titip kunci)
  • Beras seperempat karung
  • Wifi password di kulkas
  • Kucing & rutinitasnya
  • Catatan: tukang nasi uduk libur Rabu
  • Permintaan: jangan mainkan piano malam

Surat pembaca

Tiga pesan yang saya simpan dari edisi sebelumnya.

"Edisi Belitung minggu lalu membuat saya menelepon ibu saya, yang ternyata pernah tinggal di sana saat masih SD. Kami berbicara empat puluh menit. Terima kasih sudah jadi alasannya."

— Ranti, Bandung

"Saya ikut rute pendek Anda di Salatiga. Warung yang Anda sebut sudah pindah ke sebelah, tapi pemiliknya masih sama. Dia bertanya apakah saya kenal seseorang bernama 'yang nulis itu'."

— Akbar, Solo

"Tolong tulis lebih banyak tentang tempat-tempat yang biasa saja. Saya bosan dengan tempat instagrammable."

— Sari, Jakarta