Bubur Tinutuan, Warung Sumarni
Hangat, tidak terlalu kental. Ikan rohunya digoreng kering — saya makan dua porsi dan menyesal tidak membawa kotak bekal.
Cerita utama · Sulawesi Utara
Saya kembali ke kota kecil di dataran tinggi ini setelah enam tahun. Banyak yang berubah, beberapa tidak. Yang paling tidak berubah adalah caranya membuat saya pulang dengan kepala lebih ringan dan tas lebih berat.
Pesawat pagi dari Manado mendarat sebelum kabut benar-benar turun. Saya pesan ojek lewat aplikasi yang sepertinya tidak terlalu populer di kota ini — tukang ojek itu menelepon dua kali untuk memastikan saya bukan orang yang salah pencet. Saat akhirnya bertemu, kami menghabiskan lima belas menit pertama membicarakan ikan, karena dia ternyata juga mancing.
Tomohon kecil. Begitu kecil sehingga saya hampir selalu bertemu orang yang sama dua kali dalam satu hari — di pasar, di warung kopi, lalu di tikungan jalan menuju penginapan. Pada hari ketiga, satpam penginapan sudah memanggil saya dengan nama. Saya tidak pernah memberitahukan nama saya kepadanya.
Peta tangan
Bukan jalur efisien. Bukan jalur populer. Hanya urutan yang nyaman dilakukan dalam satu hari kalau Anda berjalan sambil menelepon orang tua dan sesekali membeli pisang goreng.
Yang dicicipi
Saya bayar sendiri, datang tanpa diundang, makan sampai habis.
Hangat, tidak terlalu kental. Ikan rohunya digoreng kering — saya makan dua porsi dan menyesal tidak membawa kotak bekal.
Saya tidak biasa minum kopi tubruk pekat di sore hari, tapi cuaca dingin di sini membuat saya berpikir ulang. Pemiliknya bercerita panjang soal asal biji — saya dengarkan sambil pura-pura paham.
Saya antri dua puluh menit. Layak. Cakalang fufunya sedikit pedas — saya menambah satu sendok sambal dan menangis dengan tenang.
Bukan restoran. Lapak buah dan rempah. Tapi Mama Lin punya termos berisi teh manis hangat dan akan menyodorkan ke siapa pun yang terlihat lelah. Saya termasuk.
Daftar pendek
Dua daftar. Yang pertama dibawa dari Jakarta, yang kedua diberikan ke teman yang menginap di kos saya selama saya pergi.
Surat pembaca
"Edisi Belitung minggu lalu membuat saya menelepon ibu saya, yang ternyata pernah tinggal di sana saat masih SD. Kami berbicara empat puluh menit. Terima kasih sudah jadi alasannya."
"Saya ikut rute pendek Anda di Salatiga. Warung yang Anda sebut sudah pindah ke sebelah, tapi pemiliknya masih sama. Dia bertanya apakah saya kenal seseorang bernama 'yang nulis itu'."
"Tolong tulis lebih banyak tentang tempat-tempat yang biasa saja. Saya bosan dengan tempat instagrammable."